Kesederhanaan Ternyata Lebih Awet daripada Grafis Mahal
Suatu sore di tahun 2005, saya duduk di ruang tunggu bengkel motor dengan Nokia berlayar monokrom di tangan. Permainannya cuma satu, seekor ular yang terus memanjang setiap kali memakan titik kecil di layar. Dua puluh menit lewat begitu saja, dan saya baru sadar motor sudah selesai diservis ketika montirnya memanggil nama saya untuk kedua kalinya. Momen itu sering muncul lagi di kepala setiap kali saya membaca soal anggaran produksi game modern yang kini setara biaya membuat film layar lebar. Grafisnya makin mendekati sinema dan dunianya makin luas. Anehnya, sebagian besar orang di sekitar saya justru menghabiskan waktu bermain dengan sesuatu yang aturannya bisa dijelaskan dalam satu kalimat. Ada permainan yang tamat bersama perangkatnya. Ada juga yang pindah dari satu generasi teknologi ke generasi berikutnya tanpa kehilangan jati diri. Tulisan ini membahas kelompok kedua, dan kenapa menurut saya kelompok itulah yang sebenarnya paling tahan banting di industri game. Ketika Peran...